Pentingnya Literasi Lintas Budaya – Papua, sebuah permata Indonesia dan paru-paru dunia, adalah sekolah alam terbuka sekaligus laboratorium pendidikan nasionalisme, keberagaman dan pluralisme. Di tanah yang kaya sumber daya alam ini, pendidikan anak usia dini harus dimaknai sebagai penanaman fondasi emosional dan sosial, bukan sekadar kecepatan membaca. Pendidikan karakter, berempati, cerdas emosional dan toleransi menjadi kurikulum utama.

Di tengah hiruk-pikuk perkembangan kognitif yang kerap didorong sejak usia dini, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menawarkan sebuah perspektif yang menyejukkan. Dalam Kampanye Anak Indonesia Hebat yang berlangsung di Manokwari, Papua Barat, Wamen Fajar menyerukan pentingnya penanaman Literasi Lintas Budaya sebagai fondasi utama pendidikan anak usia dini (PAUD).

Acara yang turut dihadiri oleh Bupati Manokwari Hermus Indou, Bunda PAUD Kabupaten Manokwari dan Direktur PAUD Dr. Nia Nurhasanah ini menjadi panggung untuk menegaskan kembali hakikat pendidikan prasekolah: menumbuhkan manusia yang utuh, berempati, dan cerdas secara sosial sebelum mereka didorong masuk ke dunia aksara formal.

Baca juga : Transisi PAUD ke SD

Harmoni Dalam Keberagaman

Wamen Fajar Riza Ul Haq dalam pidatonya menyampaikan sebuah refleksi mendalam mengenai dampak paparan budaya yang beragam terhadap pertumbuhan anak.
“Anak-anak kita, harus mengalami pengalaman budaya yang berbeda, dengan begitu mereka akan punya empati dan kepedulian untuk bermasyarakat di tengah keberagaman etnis, suku, agama dan budaya.  Artinya, sejak dini anak kita perlu dikenalkan dengan yang disebut Literasi Lintas Budaya,” ujarnya.

Literasi Lintas Budaya, dalam konteks ini, bukan dimaknai sebagai pelajaran formal tentang sejarah atau adat istiadat, melainkan sebagai proses pengenalan dan penghayatan akan keanekaragaman budaya yang dimulai sejak usia paling rentan.

Tujuannya sederhana namun fundamental: mempersiapkan anak agar mampu bernavigasi dan hidup dalam masyarakat yang multikultural.

Papua, bagi Wamen Fajar, adalah laboratorium terbaik bagi praktik literasi ini. Ia menggambarkan Papua sebagai permata Indonesia dan bahkan paru-paru dunia, sebuah pulau yang menyimpan kekayaan alam dan manusia yang tak terhingga. Di pulau ini, banyak sekali suku yang hidup berdampingan, sebuah mosaik kehidupan yang menjadi simbol keharmonisan.

“Dan orang-orang Papua punya keterbukaan untuk hidup berdampingan dengan siapapun. Itu adalah contoh bagaimana budaya Indonesia yang penuh dengan budaya toleransi,” tegasnya, disambut anggukan dari para peserta yang didominasi oleh pendidik PAUD.

Nilai keterbukaan dan toleransi inilah, lanjutnya, yang harus menjadi materi utama dan ditanamkan kepada anak-anak sejak usia PAUD. Ia menjamin bahwa di dalam “konten rumah pendidikan” yang akan didiskusikan oleh para pendidik, terdapat materi-materi pengenalan budaya yang relevan untuk tujuan tersebut.

Kecerdasan Emosional di Atas Aksara

Pernyataan Wamen Fajar Riza Ul Haq ini seolah menjadi kritik halus terhadap praktik PAUD yang kini makin sering berorientasi pada hasil akademik (akselerasi membaca dan menulis) demi mengejar tuntutan masuk Sekolah Dasar (SD).

Ia mengimbau agar para pendidik mengembalikan fokus PAUD kepada esensinya. “Jadi, mungkin anak-anak kita akan didorong bisa membaca dan menulis pada saat memasuki SD atau sekolah dasar. Biarkan ketika kita di PAUD, yang diolah, yang diasah adalah kemampuan emosionalnya, kemampuan sosialnya,” jelasnya.

Kemampuan sosial dan emosional (Kese) adalah dua pilar penting yang membentuk karakter anak. Dalam pandangan Wamen, kedua pilar ini dapat diasah melalui interaksi sehari-hari yang berbasis pada budaya dan kemanusiaan.

  •  Mengasah Kecerdasan Sosial: Ini dilakukan dengan mengenalkan budaya Indonesia yang beragam, mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan sebagai sebuah kekayaan, bukan tembok pemisah. Pengenalan keragaman budaya adalah bagian dari proses mengasah kecerdasan sosial anak.
  •  Mengasah Kecerdasan Emosional: Ini diwujudkan melalui aksi nyata, seperti mendorong anak untuk membantu dan menolong temannya yang berkesusahan. “Itu bagian dari mengasah kecerdasan emosinya,” ujarnya.

Pada Hari Guru ini, Wamen Fajar secara spesifik mengingatkan bahwa peran mulia pendidik di PAUD adalah menumbuhkan kecerdasan emosional dan menempatkan kecerdasan sosial anak-anak, bukan sekadar mengisi kepala mereka dengan hafalan huruf dan angka.

Manokwari: Sekolah Alam Raya

Wamen Fajar meyakini bahwa penekanan pada Kese bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Karena jika pertumbuhan kecerdasan emosional dan sosial anak berkembang optimal, maka hal itu akan berdampak positif dan signifikan pada pertumbuhan kognitif atau pertumbuhan intelektual mereka. 

Dengan kata lain, fondasi mental yang kuat akan memudahkan proses belajar akademis di tahap selanjutnya.

Manokwari dan seluruh Papua menjadi latar belakang yang sempurna untuk narasi ini.
“Saya tahu Papua ini alamnya luar biasa, sangat kaya, dan banyak anak-anak kita yang belajar dari kehidupan,” tutupnya.

Pernyataan ini bukan hanya pujian atas keindahan alam, melainkan sebuah pengakuan bahwa lingkungan alam Papua yang asri dan berlimpah adalah guru terbaik bagi anak-anak. 

Kekayaan alam dan budaya di Papua memberikan konteks nyata bagi anak untuk mengamati, berinteraksi, dan membangun empati, jauh melampaui apa yang dapat diajarkan oleh buku teks semata.

Penguatan PAUD melalui kurikulum berbasis Literasi Lintas Budaya diyakini akan melahirkan generasi Indonesia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berhati besar, toleran, dan siap menjadi “paru-paru” sosial yang sehat bagi bangsa di masa depan.

Sumber : https://paudpedia.kemendikdasmen.go.id/berita/wamendikdasmen-fajar-riza-ul-haq-serukan-pentingnya-literasi-lintas-budaya-diperkenalkan-sejak-anak-usia-dini-di-satuan-paud?do=MjcxNi1hOWQ4OTI1OA&ix=MTEtYmJkNjQ3YzA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *