Supervisor Industri Sebagai Guru Tamu Di SMK – UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 15, keberadaan SMK dirancang untuk mempersiapkan lulusannya bekerjadi bidang tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan menengah kejuruan ditujukan untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja, baik bekerja secara mandiri maupun bekerja pada industri tertentu. SMK dituntut mampu menghasilkan lulusan sebagaimana yang diharapkan oleh sekolah, masyarakat, dan DU/DI. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah tenaga kerja yang memiliki kompetensi kerja sesuai dengan bidangnya, memiliki kemampuan adaptasi, dan daya saing yang tinggi.
Banyak istilah terkait dengan pendidikan kejuruan antara lain, vocational education, technical education, professional education, dan occupational education. Hamalik (1990:24), mengemukakan pendidikan
kejuruan adalah suatu bentuk pengembangan bakat, pendidikan dasar keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan yang mengarah pada dunia kerja yang dipandang sebagai latihan keterampilan. Huges
sebagaimana dikutip oleh Soeharto (1988:1) mengemukakan vocational education (pendidikan kejuruan) adalah pendidikan khusus yang program-programnya atau materi pelajarannya dipilih untuk siapapun
yang tertarik untuk mempersiapkan diri bekerja sendiri, atau untuk bekerja sebagai bagian dari suatu grup kerja. Sejalan dengan pendapat tersebut Evans sebagaimana dikutip Muliati (2007:7) mengemukakan pendidikan kejuruan adalah bagian dari sistem pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar lebih mampu bekerja pada satu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan daripada bidang-bidang pekerjaan lain.

Prosser yang banyak dikenal sebagai bapak vokasi dunia dengan teorema enam belas memandang pendidikan kejuruan di sekolah kejuruan harus diorganisir sebagai masyarakat industri dan harus
selalu belajar dari industri. Menurut Rojewski (2009) pandangan Prosser lebih ke arah efisiensi sosial, bukan untuk pemenuhan kebutuhan diri individu masyarakat, tetapi untuk pemenuhan kebutuhan tenaga kerja suatu negara. Benteng pertahanan pendidikan kejuruan untuk efisiensi sosial adalah penyiapan tenaga kerja terdidik-terlatih yang selalu tunduk kepada pemberi kerja. Menurut pandangan Prosser, efisiensi sosial sekolah kejuruan dikatakan efektif hanya jika sekolah kejuruan tersebut dapat menunjukkan iklim sekolah sama dengan iklim di industri, pihak user dan alumni puas terhadap hasil
pendidikannya, siap mencetak tenaga kerja yang trampil memenuhi kebutuhan pekerjaan di suatu negara. Teori Prosser sangat kuat pengaruhnya pada pendidikan dan pelatihan kejuruan di berbagai negara. Taiwan menggunakan sistem simulasi, dimana bengkel praktik kerja dibangun di sekolah kejuruan seperti atau sama dengan fasilitas industri. Yang kedua dengan on-the-job training dimana tempat kerja juga untuk pengajaran. Demikian juga dengan Jerman yang menggunakan dual system, TEFA di Australia
menerapkan work-place learning untuk mendekatkan pendidikan kejuruan dengan dunia kerja.
Falsafah mempelajari prinsip-prinsip yang mendasari aksi dan tingkah laku manusia. Dengan demikian kedudukan philosophy adalah sebagai landasan pemikiran, perkataan dan perbuatan seseorang.
Falsafah akan memberikan arah yang diperlukan untuk pelayanan pendidikan dan pengajaran selain kerangka kerja dimana tujuan-tujuan, maksud dan kegunaan tersebut dibangun.

Download

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *