Literasi Menata Masa Depan – MENUMBUHKAN literasi di sekolah tentu bukan pekerjaan yang mudah. Layaknya tanaman, tunas dihasilkan dari benih unggul yang tumbuh pada lahan yang subur dilimpahi sinar matahari, pengairan yang cukup, serta perawatan berkala dari sentuhan tangan sang petani yang lihai. Tidak setiap sekolah memiliki lingkungan yang nyaman dan menyenangkan sebagai lahan subur untuk menumbuhkan sang tunas. Sebagian sekolah mungkin terletak ‘lahan’ yang tak kondusif, berupa lingkungan sempit dengan gedung yang harus berbagi dengan sekolah lain, sehingga tak ada ruang untuk menyimpan rak-rak
buku. Sarana untuk memupuk tumbuh-kembang benih, seperti buku-buku yang menarik dan perangkat teknologi dengan konten digital yang baik, sulit ditemukan di banyak sekolah. Sang ‘benih’ pun sering berasal dari lingkungan yang mengalami permasalahan mendasar, seperti asupan gizi, beban ekonomi, serta permasalahan sosial lainnya. Sebagian kisah dalam buku ini menggambarkan upaya guru sebagai petani yang lihai menyiasati keterbatasan di sekolah. Mereka mengolah lahan, membuang batu-batu
dan gulma bernama tantangan lalu menyulapnya menjadi potensi. Mereka melakukan ini melalui kegiatan literasi yang menarik minat siswa, seperti berbincang tentang dan menganalisis kopi, melontarkan pertanyaan untuk membuat kegiatan membaca menarik, menggiatkan apresiasi seni, dan kegiatan lain untuk menghidupkan buku. Dengan upaya kreatif dan inovasi, guru-guru ini menumbuhkan tunas literasi dari benih berupa mereka yang berkebutuhan khusus dan siswa dari keluarga yang berpenghasilan rendah. Kreativitas dan inovasi itu tumbuh dari kecintaan mereka terhadap siswa, kasih-sayang kepada buku dan semangat yang begitu besar untuk melihat sang tunas tumbuh dan menyongsong dunia.
Kisah perjuangan yang inspiratif ini tentunya terlalu berharga untuk tidak dibagi. Untuk itulah buku kumpulan kisah ini ditulis.
Baca Juga : Sarasehan Literasi Sekolah 1
Buku ini menghimpun para guru, yang melakukan lebih banyak dari yang seharusnya. Ketika guru-guru lain menunaikan tugas mengajar dan pulang ke rumah, mereka tinggal di kelas untuk merancang kegiatan yang lebih menarik di hari berikutnya. Mereka menggunakan hari libur akhir pekan bukan untuk bercengkerama dengan keluarga, namun untuk bertemu dengan rekan pegiat, menggagas aksi literasi, membagikan buku-buku bagi pengunjung ruang publik, atau berburu buku murah. Mereka membuka
jejaring seluas mungkin dengan bergabung dalam komunitas relawan untuk saling menyemangati dan berbagi inspirasi.
Untuk semua itu, mereka bahkan tak segan mengeluarkan biaya dari dompet mereka sendiri. Buku antologi ini tentunya tidak sekadar menghimpun kisah atau membagi ide-ide tentang praktik baik literasi.
Lebih dari itu, buku ini berupaya untuk menyalakan pijar semangat dalam lubuk hati guru dan tenaga kependidikan di seluruh penjuru tanah air. Karena semangat itulah yang melahirkan guru dengan inovasi, kreativitas, dan kesetiaan. Guru pembelajar adalah mereka yang bersemangat menjadikan masalah sebagai tantangan yang selalu dapat ditaklukkan.