kisah pancasila

Pada tahun 1945, para pendiri bangsa telah menetapkan Pancasila sebagai dasar negara. Lima sila itu adalah landasan tempat kita berpijak dalam segala hal yang berhubungan dengan hidup bernegara. Setiap warga negara tentu merdeka untuk mengutarakan pikiran dan pendapatnya sendiri. Akan tetapi,
kalau sudah menyangkut persoalan bernegara dan hidup bersama sebagai ·anggota’ dari negara, maka kita wajib berpedoman pada Pancasila. Semua aturan perundang-undangan dan kebijakan pemerintah harus bisa dirunut asal-muasalnya dalam semangat kelima sila dalam Pancasila . . Itulah maksudnya Pancasila sebagai dasar negara.
Walaupun baru dicetuskan pada tahun 1945 dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan ditetapkan dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Pancasila sebetulnya sudah berlaku dalam praktik sehari-hari masyarakat Indonesia. Soekarno tidak mengarang bebas waktu ia mencetuskan Pancasila pada sidang BPUPKI. Ia tidak mereka-reka Pancasila dari angan­ angannya sendiri.
Dalam mencetuskan Pancasila, Sang Proklamator merangkum pengalaman berjuang bangsa Indonesia melawan penjajahan. Ia membaca sejarah bangsa kita yang hidup sengsara di bawah penjajahan Belanda. Ia mempelajari bagaimana rakyat Indonesia ditindas oleh para priyayi setempat yang mengabdi
Belanda. Ia menyelidiki sebab-sebab kenapa penjajahan bisa menimpa bangsa Indonesia. Kemudian Soekarno memperhatikan juga usaha-usaha mandiri bangsa Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Ia menyaksikan sendiri gelora rakyat banyak yang dengan penuh keberanian melakukan perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan. Ia belajar dari pengalaman bangsa Indonesia sejak awal abad ke-20 yang mau membangun tatanan masyarakat adil dan makmur, merdeka dari
segala macam penindasan. Dari sanalah kemudian Soekarno, pada sidang BPUPKI 1 ]uni 1945, mencetuskan Pancasila sebagai landasan negara kita. Pancasila adalah saripati dari perjuangan
melawan kolonialisme dan perjuangan membangun Negara Indonesia Merdeka. Oleh karena itu, membaca kisah Pancasila adalah membaca kisah perjuangan rakyat menghancurkan kolonialisme Belanda
dan membangun Negara Indonesia Merdeka. Perlawanan terhadap penjajahan telah meletus di berbagai daerah sepanjang kepulauan Nusantara. Di Aceh kita punya Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Meutia, dua perempuan gagah berani yang mengorbankan nyawa demi mengusir penjajah. Di Ambon, kita punya Martha Christina Tiahahu yang berontak terhadap penindasan Belanda atas masyarakat Maluku. Di Jawa, kita punya Nyi Ageng Serang, perempuan cerdik ahli siasat perang gerilya kepercayaan Pangeran Diponegoro, yang gigih melawan penyerobotan tanah yang dilakukan penjajah Belanda. Di Kalimantan, kita punya Pangeran Antasari bertempur melawan Belanda di sepanjang sungai Barito. Di Sulawesi, kita punya Pong Tiku, seorang gerilyawan piawai yang tak henti-hentinya membuat penjajah kesulitan menancapkan kaki di Tana Toraja.

Baca juga :Pengertian Profil Pelajar Pancasila

Dari abad ke-17 sampai dengan abad ke-19, pengorbanan para pahlawan kita tak berhasil mengusir penjajah Belanda. Apa sebabnya? Tak lain karena perjuangan kita terpecah-pecah, dijalankan sendiri-sendiri pada tiap-tiap wilayah. Setiap pahlawan berjuang untuk masyarakat di daerahnya. Mereka belum
mengikatkan diri dalam satu kesatuan bangsa Indonesia. Mereka belum berjuang sebagai bangsa Indonesia yang satu. Penjajah Belanda menuai keuntungan dari kondisi masyarakat Nusantara
yang terpecah belah. Bahkan tak jarang pula mereka memanfaatkan perbedaan itu demi menyulut perpecahan di antara masyarakat Nusantara sendiri. Agar masyarakat Nusantara tidak bersatu melawan Belanda, maka penjajah menanamkan ketidaksukaan antar daerah, prasangka antar etnis, kecurigaan
antar pemeluk agama di Nusantara. Sebab mereka tahu,penjajahan hanya bisa langgeng kalau masyarakat yang terjajah itu terus terpecah-belah.
Politik pecah-belah atau adu-domba inilah yang perlahan­ lahan disadari oleh rakyat Indonesia. Di awal abad ke-20, dengan tumbuhnya suratkabar yang diusahakan clan dikelola oleh bangsa Indonesia sendiri muncullah kesadaran persatuan sebagai bangsa. Muncullah kesadaran bahwa orang )awa, orang Batak, orang Minang, orang Bone, orang Maluku, orang Flores, peranakan Arab, peranakan Tionghoa, semua etnis dari berbagai daerah diNusantara itu sama-sama dijajah. Walaupun mereka berbeda­
beda, tapi mereka tetap satu sebagai bangsa yang dijajah oleh Belanda. Oleh karena itu, perlawanan terhadap kolonialisme pun hanya akan berhasil apabila dilangsungkan sebagai suatu kesatuan
tenaga, sebagai satu bangsa yang meronta clan berontak ingin merdeka. Maka lahirlah bangsa Indonesia, burung garuda yang gagah clan cemerlang itu.
Maka bangun clan berdirilah bangsa Indonesia! Kita bangsa Indonesia terlahir dari etnis, agama clan pandangan hidup yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh nasib penjajahan yang sama clan
oleh karena itu dipersatukan pula oleh api rasa merdeka yang sama. Kita berbeda-beda tapi tetap satu bangsa merdeka. Dengan begitu, bergulirlah perjuangan rakyat Nusantara sebagai bangsa
Indonesia pada awal abad ke-20. Orang-orang membangun partai tidak lagi atas dasar etnis, agama clan kewilayahan, tetapi atas dasar keinginan bersama untuk merdeka.
Atas desakan zaman yang mewujud dalam perlawanan rakyat di mana-mana, muncullah para pemimpin pergerakan kebangsaan. Dibentuklah Indische Partij sebagai partai politik pertama di Indonesia pada 25 Desember 1912 oleh Douwes Dekker, Ki Hadjar Dewantara, dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Mereka
ditangkap dan dibuang karena mengkritik pemerintah Belanda. Kemudian tumbuh partai-partai lain yang ditanggapi dengan keras oleh pemerintah kolonial. Sebagian dibubarkan, anggotanya diasingkan, bahkan dibunuh dan dianiaya. Di tengah gelora itu, tampillah Soekarno memimpin Partai Nasional Indonesia yang mencita-citakan kemerdekaan Indonesia. Ia berulang-kali ditangkap, dijebloskan ke penjara dan diasingkan ke berbagai daerah di sepanjang Nusantara. Tapi ia tetap teguh memimpin perjuangan bangsa Indonesia ke arah kemerdekaan. Di tengah hiruk-pikuk perjuangan nasional itulah ia mencetuskan Pancasila sebagai intisari perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka.
Kisah Pancasila adalah kisah perlawanan rakyat untuk menggantikan tatanan masyarakat terjajah dengan tatanan masyarakat merdeka. Kisah Pancasila adalah kisah bangsa merdeka. Inilah kisah yang belum selesai hingga kini. Kisah Pancasila adalah kisah kita semua

Kisah-pancasila_11zon

Sumber : Buku “Kisah Pancasila” Disusun oleh Panitia Peringatan HAri Lahir Pancasila. Direktorat Sejarat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2017 (dikdasmen.go.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *