Studi lintas negara menunjukan bahwa kebijakan dan tujuan asesmen nasional sangat dipengaruhi oleh konteks sosial, geografis, politik, dan historis masing masing negara. Australia, Amerika Serikat, Finlandia, Jepang dan Vietnam cenderung memanfaatkan asesmen nasional sebagai instrumen monitoring dan diagnostik sistem pendidikan, sementara Tiongkok, Korea Selatan dan Inggris menggunakannya sebagai bagian dari mekanisme seleksi dan akuntabilitas.
Perbandingan di atas menunjukan adanya pola konvergensi kebijkan asesmen yang cukup signifikan. Hampir disemua negara mulai bergerak dari pola high-stakes evalation (yang menitikberatkan pada kelulusan) menuju learning-oriented diagnostic assesment (Darling-Hammond et al., 2020; OECD, 2023). Australia, FInlandia, Jepang dan Vietnam menekankan asesmen sebagai instrumen pembelajaran, bukan seleksi. Sementara Amerika Serikat menggunakan NAEP untuk melakukan evaluasi kesetaraan hasil belajar antarnegara bagian tanpa memberi dampak langsung bagi siswa (NCES, 2019). Fenomena ini mencerminkan global paradigm shift dari testing for accountability menjadi asessment for learning and equity (Black & Wiliam, 2018; Moss et al 2006)
Baca Juga : Asesmen Nasional
Australia melalui NAPLAN menerapkan asesmen nasional untuk mengukur literasi dan numerasi sebagai sarana pemetaan mutu pendidikan, khususnya diwilayah rural dan terpencil yang luas, dengan fungsi utama sebagai alat monitoring dan diagnostik sekaligus pemantauan kesenjangan (equity monitoring ) (Cranley et al., 2022). Pendekatan serupa diterapkan di Amerika Serikat, dimana Asesmen Nasional tidak menentukan kelulusan tetapi digunakan untuk memetakan kesenjangan capaian antarras, antarnegara bagian dan antar kelompok sosial ekonomi. Kebijakan asesmen di AS mencerminkan karakter masyarakat yang plural dan terfragmentasi , sehingga asesmen dirancang untuk menampilkan analisis tren dan achievment gaps sebagai dasar perumusan kebijakan pendidikan (Darling-Hammond et al., 2020)
| Negara | Konsep & Arah Kebijakan | Orientasi Kebijakan |
| Australia (NAPLAN) | Asesmen Nasional Berbasis kurikulum utuk memetakan kemahiran lintas jenjang & wilayah; diarahkan pada pelaporan standar profesiensi dan diagnostik pembelajaran sambil tetap menjaga akuntabilitas sistem | Hibrid (diagnostik; akuntabilitas mderat). Non-high-stakes bagi siswa ( tidak menentukan kelulusan digunakan untuk pemantauan mutu nasional, analisis kesenjangan, dan umpan balik instruksional ke sekolah |
| Amerika Serikat (NAEP) | Sebagai indikator nasional berbasis sampling untuk memonitor tren dan capaian & kesenjangan ; kuat pada akuntabilitas sistem dan bukti kebijakan; bukan merupakan tes sekolah harian | Akuntabilitas sistem murni. Non-high-stakes untuk siswa/ sekolah (hasil setingkat negara/negara bagian). Dipakai untuk tren nasional disparitas kelompok dan evaluasi kebijakan pendidikan |
| Inggris – england (SATs/GCSE) | Kombinasi tes standar dan ujian akhir nasional untuk menentukan akuntabilitas dan seleksi jenjang pendidikan. Inggris merupakan negara yang menganut sistem sentralistik | KS2 : Akuntabilitas sekolah ( dampak pada accountability framewok) NRT : indikator non-high-stakes untuk memantau pergeseran performa, membantu penetapan standar ujian menengah (GCSE) |
| Jepang (NAAA-MEXT) | Asesmen nasional kurikulum based untuk mengevaluasi implementasi kurikulum & memperbaiki pengajaran; kuat pada perbaikan instruksional dengan transparasi publik | Akuntabilitas sistem dan perbaikan pembelajaran. Non-high-stakes bagi siswa; hasil dipakai untuk identifikasi kelemahan sistemik dari penyesuaian kurikulum dan pengajaran |
| Korea Selatan (NAEA – KICE) | Dari akuntabilitas kuat bergeser menuju reform pembelajaran (kurangi over-testing); NAtional Assesment dipakai sebagai monitoring capaian kurikulum dan penopang kebijakan pemerataan, termasuk diguanakn untuk seleksi perguruan tinggi | Akuntabilitas secara hibrid. Non-high-stakes bagi siswa; hasil dimanfaatkan untuk school improvement, pemetaan kesenjangan dan revisi kurikulum |
| Finlandia (FINEEC/KARVI-sample-based) | Formative system evaluation: evaluasi hasil belajar berbasis sampel yang menekankan trust & improvement; tanpa ujian nasional kelulusan di pendidikan dasar; | Formatif-diagnostik sistemik. Non-high-stakes secara penuh; data dipakai untuk rekomendasi kebijakan dan dukungan profesional guru bukan ranking |
| Vietnam (ANLAS/National Assessment) | Agenda penguatan mutu dengan mengaitkan asesmen & kurikulum; gunakan temuan PISA sebagai leverage reform; National Asessment difungsikan sebagai diagnostik sistem & koherensi kebijakan. | Monitoring & reformasi kurikulum. Non-high-stakes pada komponen sistemik; ujian kelulusan tetap ada (terpisah). Data dipakai untuk penyelarasan kurikulum-pengajaran |
| Singapura (PSLE -AL System) | High-capability but growth-oriented: PSLE direformasi ke Achievment level (AL 1-8) untuk mengurangi fine ranking; menekankan kesiapan & penempatan berbasis kompetensi | High-stakes moderat (untuk penjurusan bukan kelulusan sistem akhir). Tujuan : keadilan penempatan; fokus pembelajaran. kurangi kompetisi skor tipis |
| Tiongkok (NAEQ/ Quality Monitoring; APT/Huikao; Gaokao) | Dual track : (a) Monitoring mutu wajib belajar (NAEQ) untuk akuntabilitas sistem; (b) Academic Proficiency Test (APT/Huikao) di SMA untuk kelulusan; (c) Gaokao sebagai seleksi perguruan tinggi. Ada arah reformasi ke kualitas holistik | Akuntabilitas sistem dan high-stakes (APT/Gaokao). Monitoring nasional non-high-stakes; tes memengaruhi kelulusan SMA; Gaokao high-stake; untuk seleksi masuk PT. |
Sumber : https://jurnaldikbud.kemdikbud.go.id/