Bahasa Jawa dikenal memiliki beberapa dialek. Dialek-dialek tersebut dapat dibedakan dari ciri-ciri tertentu. Sepintas perbedaan itu dapat diketahui dari pelafalan atau cara ucap, serta kosakatanya.
Namun, kedua hal tersebut belum serta-merta menggambarkan ciri perbedaan secara menyeluruh sebelum ada upaya mencari keterkaitan dengan pembicaraan struktur dialeknya. Bahasa Jawa memiliki empat dialek dan tiga belas subdialek. Dialek-dialek tersebut adalah dialek Banyumas, Pesisir Utara, Sura-
karta, dan Jawa Timur. Adapun subdialek-subdialek itu meliputi Purwokerto, Kebumen, Pemalang, Banten Utara, Tegal, Semarang, Rembang, Surakarta, Yogyakarta, Madiun, Surabaya, dan Banyuwangi
(Uhlenbeck,1972:75 dalam http://www.adjisaka.com/kbj5/index. php/makalah-komisi-c/1174-41-fenomena-bahasa-tegal-dalam-tingkah-laku). Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta tahun 1981 pernah menerbitkan hasil penelitian Suwadji, Slamet Riyadi, Dirgo Sabariyanto, dan Gina. Mereka telah meneliti Struktur Dialek Bahasa Jawa di Pesisir Utara
Jawa Tengah (Tegal dan sekitarnya). Mereka mengakui hal itu bukan penelitian pertama mengingat pada tahun 1903, AHJG Walbeehn, sarjana berkebangsaan Belanda meneliti hal serupa, yakni Het Dialect
van Tegal ‘Dialek Tegal’. Bahasa Jawa Tegal merupakan bahasa daerah yang hidup dan berkembang di wilayah Tegal dan sekitarnya, serta beberapa daerah lain yang ada di wilayah Indonesia. Masyarakat di luar wilayah Tegal acapkali menyebut bahasa Jawa logat Tegal ini dengan bahasa Jawa Tegal. Bahasa Jawa Tegal ini hampir mirip dengan bahasa Jawa Banyumasan. Namun, ada beberapa hal yang berbeda di antara keduanya. Bahasa Jawa Banyumasan cenderung mengucapkan bunyi berakhiran /a/ dengan ikutan bunyi glotal / ?/, contohnya kata ana apa? diucapkan /ana apa?/, sedangkan pada bahasa Jawa Tegal apa yang terucapsama dengan yang tertulis. Frasa ana apa diucapkan /ana apa/. Hal tersebut menjadi pembeda yang paling mencolok di antara kedua dialek ini. Bahasa Jawa Banyumasan sering disebut sebagai basa ngapak, sedangkan bahasa Jawa Tegal tetap disebut basa Tegal. Menurut Ki Entus Susmono, Bupati Tegal, pada Kongres Bahasa Tegal I tahun 2006 persamaan bentuk tulis dan bentuk ucap dalam bahasa Jawa Tegal tersebut dinilai dapat memengaruhi perilaku konsisten masyarakat penggunanya.
Bahasa Jawa Tegal dituturkan di beberapa wilayah, yakni di Kabupaten Brebes, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, dan beberapa wilayah di bagian barat Kabupaten Pemalang. Namun, ada hal yang kontradiktif
yang terjadi di masyarakat. Masyarakat Tegal yang berbahasa Jawa Tegal “dipaksa” mempelajari bahasa standar (dialek Yogyakarta—Surakarta) dengan alasan belum ada kodifikasi dan pembakuan bahasa Jawa Tegal (termasuk bahasa Jawa Banyumasan). Hal ini “menggelitik” banyak tokoh untuk “menghidupkan” bahasa Jawa Tegal di wilayah tuturnya. Sebenarnya sudah banyak upaya untuk merevitalisasi eksistensi bahasa Jawa Tegal. Salah satunya penyelenggaraan Kongres Bahasa Tegal pada tahun 2006. Namun, sudah hampir satu dasawarsa belum ada lagi tindak lanjut yang signifikan dalam upaya pemartabatan bahasa dan budaya Tegal.
Baca juga : Kamus Sekolah Dasar Tahun 1994
Ada banyak tokoh yang melakukan upaya tersebut dengan cara mereka masing-masing, di antaranya adalah Ki Enthus Susmono yang berjuluk “Dalang Edan”. Bupati Tegal ini dikenal konsisten sekali
dengan ketegalannya. Ia senantiasa memasukkan unsur kosakata Tegal dalam setiap pementasan wayangnya. Ada lagi Lanang Setiawan, seorang sastrawan Tegal yang pernah meraih penghargaan Rancage. Ia telaten mengumpulkan kosakata bahasa Jawa Tegal yang kemudian disusun menjadi Kamus Bahasa Tegal yang terbit tahun 2005. Selain Sekilas Tentang Bahasa Jawa Tegal itu, Lanang Setiawan juga produktif menciptakan lagu-lagu Tegal yang disebarkan melalui jalur indie label. Langkah Lanang ini juga dilakukan oleh budayawan Tegal, M. Hadi Utomo, yang juga sangat konsisten dengan ketegalannya. Dia juga menyusun Kamus Bahasa Tegal yang terbit pada tahun 2002. Selain itu, kiprah Hadi dalam membumikan bahasa Jawa Tegal ini membuat jingle-jingle iklan berbahasa Tegal, artikel-artikel, dan kesenian berbahasa Tegal. Ada lagi Yono Daryono, seorang budayawan dan seniman Tegal, yang menggagas Kongres Bahasa Tegal I yang digelar pada tanggal 4 April 2006, di Hotel Bahari
Inn Kota Tegal.
Keprihatinan tersebut juga menjadi perhatian Balai Bahasa Jawa Tengah untuk ikut merawat salah satu dialek di Jawa Tengah ini. Balai Bahasa Jawa Tengah mengupayakan kodifikasi bahasa Jawa Tegal
dengan menyusun ulang Kamus Tegal—Indonesia susunan M. Hadi Utomo. Upaya ini diharapkan dapat menjadi salah satu penyemangat masyarakat Tegal dan sekitarnya untuk tetap bangga melestarikan dan
terus menggunakan bahasa Jawa Tegal.
Sumber : Kemdikbud
[…] Baca juga : Kamus Bahasa Jawa Tegal […]