Majalah Jendela Edisi 54 – Pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang terselenggara akibat pandemi Covid-19 telah berjalan hampir satu tahun lamanya. Dampak negatif, seperti putus sekolah, ancaman learning loss mulai dirasakan. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan. Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terus berupaya membuat kebijakan yang dapat membantu sekolah dan pemerintah daerah untuk menyiapkan diri menyelenggarakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas secara bertahap. Misalnya saja dengan mendukung program vaksinasi dengan menyediakan data pendidik dan tenaga kependidikan seluruh Indonesia. Target pemerintah agar program ini dapat tuntas hingga Juli 2021 dipermudah dengan ketersediaan data tersebut. Kemudian, kebijakan berupa relaksasi penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dapat digunakan untuk menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk penyelenggaran PTM terbatas dengan protokol kesehatan ketat.
Dua contoh kebijakan tersebut hanya sebagian kecil dari ikhtiar Kemendikbudristek dalam mendorong
sekolah menggelar PTM terbatas. Sajian artikel lengkap redaksi hadirkan pada edisi kali ini di rubrik Fokus. Tidak lupa pula Jendela tampilkan pendapat dari praktisi pendidikan mengenai kebijakan yang dilakukan Kemendikbudristek ini.
Selanjutnya pada rubrik Resensi Buku, redaksi suguhnya ulasan singkat buku berjudul “Mengajar Generasi Z”. Buku setebal 160 halaman ini memberikan solusi dalam mempersempit kesenjangan antara guru dan siswa yang berasal dari generasi Z dari sektor pedagogik. Simak penjelasan lebih lengkap pada edisi ini
di halaman 30. Sementara itu, pada rubrik Seputar Film Indonesia kali ini, Jendela menghadirkan ulasan tentang serial drama
“Ustadz Jaga Jarak”. Drama yang dibintangi almarhum Ade Firman Hakim ini erat kaitannya dengan pandemi Covid-19. Bagaimana cerita yang dikisahkan dalam drama ini? Baca artikelnya di halamn 32 dan 33. Pada rubrik Kebudayaan, pembaca dapat menyimak artikel tentang program yang ditujukan untuk
membangun desa lewat pendekatan teknologi, sains, seni, matematika, dan teknik. Kegiatan yang diberi nama “Kemah Budaya Kaum Muda” ini bertujuan mencari inisiatif kaum muda supaya kebudayaan Indonesia siap menghadapi tantangan masa depan. Di rubrik Kajian, ada suguhan artikel dari hasil studi
tentang pro dan kontra sistem zonasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) di Indonesia. Studi ini
bertujuan mengkaji secara komprehensif latar historis penerapan sistem zonasi di beberapa negara, tujuan, keuntungan dan tantangan, serta solusi mengatasi persoalan penerapan sistem zonasi. Simak artikel lengkapnya pada halaman 38 s.d. 40. Terakhir, rubrik yang juga tidak boleh dilewatkan ada
Bangga Berbahasa Indonesia yang kali ini menyajikan artikel ringan nan berwawasan, berupa ungkapan
dengan nama hewan. Apa saja ungkapan tersebut, arti, dan bagaimana penggunaaanya dalam kalimat? Simak di halaman 41. Pada halaman 42, pembaca akan temui senarai kata serapan yang diambil dari berbagai bahasa di dunia.
Redaksi ucapkan terima kasih atas dukungan para pembaca setia Jendela sehingga majalah ini dapat terbit untuk menjadi referensi serta tambahan informasi mengenai kebijakan Kemendikbudristek. Jangan lupa untuk ikuti akun media sosial Jendela di Facebook Majalah Jendela Dikbud. Tinggalkan jejak dengan
berkomentar pada salah satu unggahan. Akhir kata, selamat membaca dan ambil manfaat dari artikel-artikel yang tersaji.