Majalah Vokasi April 2023 – Matahari sudah semakin terik ketika Kapal Putri Mayang Madu berhasil berlayar dengan gagah di Pelabuhan Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Sebelumnya kapal ini sempat kandas dan urung melaut karena pasang air laut tak mampu mengangkat badan kapal.
Di atas geladak Kapal Putri Mayang Madu, para siswa SMKN 3 Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur berdiri dengan pose yang tak kalah gagah dengan kapal yang mereka tumpangi. Ada raut bangga diwajah mereka meski lelah tak sepenuhnya bisa ditutupi.
“Bangga sekali karena selama ini hanya bisa mendesain kapal di kertas. Sekarang bisa merealisasikan desain menjadi kapal yang nyata. Pengalaman langsung ini membuat saya merasa lebih percaya diri dengan kompetensi yang saya miliki,” kata Nur Afifah.
Ifa begitu Nur Afifah biasa disapa hanyalah satu dari 31 siswa SMKN 3 Buduran yang terlibat dalam proyek pembangunan Kapal Putri Mayang Madu. Ifa juga menjadi satu dari enam perempuan yang
turut serta dalam proyek monumental tersebut. “Saya bertugas merancang desain interior untuk kapalnya,” kata Ifa.
Keterlibatan Ifa dalam pembangunan Kapal Putri Mayang Madu setelah sekolah tempat Ifa belajar ditunjuk Direktorat SMK, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi untuk membangun dan merevitali-
sasi kapal tradisional. Revitalisasi kapal tradisional dilakukan dalam rangka mendukung program Revitalisasi Jalur Rempah yang digagas Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek.
Bukan Kapal Kayu Biasa Kapal Putri Mayang Madu merupakan gabungan antara Kapal tradisional Ijon-Ijon khas Paciran dan Kapal Gelatik dari Madura. Kapal Ijon-Ijon sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Bu-
daya Tak Benda (WBTB) dan menjadi kapal kebanggaan warga Desa Kandang Semangkon, Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Dalam catatan sejarah, Ijon-Ijon juga berperan penting dalam penyelamatan korban pada peristiwa tenggelamnya Kapal Van der Wijck di perairan Lamongan pada tahun 1921.
Meskipun merupakan kapal kayu tradisional, kapal buatan anak SMK ini dirancang modern. Ada panel surya yang terpasang di atas ruang kemudi untuk keperluan elektrifikasi kapal. Perangkat navigasi juga ada berupa Passive Radar Reflector untuk keamanan berlayar.
Ekosistem Merdeka Belajar Keberhasilan membangun kapal-kapal tradisional berteknologi modern oleh
SMKN 3 Buduran tidak lepas dari program SMK Pusat Keunggulan Skema Pemadanan Dukungan (SMK PK SPD). Program ini berhasil mengolaborasikan SMKN 3 Buduran dengan PT Tunas Maritim Global dan Rosyid College of Arts and Maritime Studies. Kolaborasi apik tersebut berdampak langsung pada penguasaan kompetensi para siswa.
Kepala SMKN 3 Buduran, Eko Budi Agus Supriatna mengatakan bahwa ekosistem Merdeka Belajar yang tercipta pada proyek revitalisasi ini membuat siswa bisa menggali ilmu dari berbagai sumber ilmu. “Siswa kami bahkan bisa menggali ilmu dari warga lokal yang memang merupakan para perajin atau pembuat
kapal kayu,” kata Eko.
Sumber : Kemdikbud
[…] Baca juga : Majalah Vokasi April 2023 […]
[…] baca juga : Majalah Vokasi April 2023 […]
[…] Baca juga : Majalah Vokasi April 2023 […]
[…] Baca juga : Majalah Vokasi April 2023 […]
[…] Baca juga : Majalah Vokasi April 2023 […]
[…] Baca juga : Majalah Vokasi April 2023 […]
[…] Baca Juga : Majalah Vokasi April 2023 […]
[…] Baca juga : Majalah Vokasi April 2023 […]
[…] Baca juga : Majalah Vokasi April 2023 […]