Sarasehan Literasi Sekolah 2 – Pada tahun 2003, saat Unesco mengeluarkan dokumen tentang literasi, Indonesia meresponnya dengan program pemberantasan buta aksara. Sebab, saat itu,
jumlah penduduk Indonesia yang masih buta aksara sangat besar, sekitar 16 juta
orang. Pada 2015, ketika penduduk Indonesia yang melek aksara (baca-tulis-hitung)
sudah mencapai sekitar 98%, maka pemerintah menjalankan program literasi melalui
Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.
Literasi tidak sekadar kegiatan baca tulis. Lebih dari itu, ia mengarahkan masyarakat
untuk bisa mengakses, memilih dan memilah, serta menggunakan informasi secara
lebih tepat guna dalam kehidupan sehari-hari. Itu sebenarnya amanat Undang-undang:
mencerdasakan kehidupan bangsa.
Gerakan Literasi Sekolah berfokus ke sekolah. Setelah dua tahun berjalan, masih ada
sekolah yang belum konsisten menjalankan program 15 menit membaca. Setidaknya ada
tiga hal yang menjadi sebab program GLS tidak berjalan lancar.
Pertama, tidak ada buku. Buku yang dibaca tidak ada kecuali buku pelajaran. Buku
pelajarannya pun bukan buku pelajaran mutakhir. Di kawasan terdepan, terluar, dan
tertinggal (3T), masyarakat sulit mengakses buku. Toko buku pun tidak ada. Itu jadi
perhatian kita bagaimana menyediakan buku di sekolah.
Kedua, gurunya. Di sekolah, masih banyak guru yang tidak tahu apa yang harus dilakukan
dalam menjalankan program literasi. Makanya perlu diselenggarakan pelatihan guru, baik
yang dilakukan oleh pemerintah maupun komunitas literasi.
Ketiga, tempat membaca. Perpustakaan diharapkan menjadi lokasi membaca siswa. Tapi
belum semua sekolah punya peprustakaan. Di SD, misalnya, hanya 60% sekolah yang
memiliki perpustakaan. Tapi, dari jumlah tersebut, peruntukannya lebih sebagai gudang
buku daripada tempat membaca. Sekolah yang memfungsikan perpustakaan seperti
itu harus segera direvitalisasi. Pegiat literasi yang sudah punya pengalaman menata
perpustakaan yang bagus dan menyenangkan dapat berkontribusi.
Ditjen Dikdasmen memandang, program seperti pelatihan guru dan menyiapkan buku
adalam tujuan antara. Hasil yang hendak dituju adalah perubahan perilaku anak di sekolah;
senang membaca, suka menulis, kegiatan literasi bagus.
Mendorong guru untuk menulis buku itu bagus, tapi jangan lupa muridnya. Tujuan kita
adalah muridnya. Kalau muridnya hebat, berarti gurunya hebat. Jangan sampai gurunya
hebat, muridnya seperti itu saja. Itu yang tidak kita harapkan.
Saya berharap Sarasehan Literasi Sekolah terus berlanjut. Sebab kegiatan ini menjembatani
antara gerakan literasi yang dilaksanakan di sekolah dengan gerakan yang dilakukan
oleh penggiat literasi di luar sekolah. Kegiatan literasi di ranah keluarga mestinya juga
terlibat dalam acara ini. Jika muncul sinergi antara literasi di ranah keluarga, sekolah, dan
masyarakat, dampaknya akan dahsyat.