Setelah mampu meningkatkan akses terhadap layanan pendidikan, upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan menjadi perhatian utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa hasil studi dan asesmen menunjukkan mutu pendidikan kita belum menggembirakan. Lihat misalnya hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2018
yang menunjukkan bahwa capaian kemampuan siswa Indonesia usia 15 tahun untuk literasi membaca, matematika, dan sains berada di bawah rata-rata negara OECD (Puspendik, 2019). Yang lebih memprihatinkan, dari ketiga bidang literasi yang diujikan, hasil literasi membaca pada PISA 2018
ini menurun di titik semula seperti hasil PISA 2000. Penyebab rendahnya hasil PISA untuk literasi membaca di atas dapat ditarik sampai ke kelas awal sekolah dasar (kelas 1, 2, dan 3). Hasil Early
Grade Reading Assessment (EGRA) di tujuh provinsi menunjukkan siswa kelas 2 dan 3 umumnya dapat membaca kata dalam Bahasa Indonesia, namun tidak memahami makna dari kata tersebut (ACDP, 2014). Demikian pula studi yang dilakukan INOVASI (2018) yang menyimpulkan bahwa masih ada siswa di kelas 1 – 3 SD yang belum mampu membaca. Sementara itu, Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) pada 2016 memperlihatkan bahwa 47% siswa kelas 4 SD belum mampu membaca secara mandiri (Puspendik, 2016). Lemahnya kemampuan membaca terus terjadi sehingga lebih dari 55% siswa berusia 15 tahun dalam tes PISA masuk kategori buta huruf secara fungsional, yakni dapat membaca teks namun tidak mampu menjawab pertanyaan sesuai teks tersebut (World Bank, 2018).
baca juga : Replikasi Program Peningkatan Literasi Dasar Siswa
Pelajaran membaca, menulis dan berhitung anak di kelas awal sekolah dasar merupakan pembelajaran inti. Kemampuan yang didapat pada pelajaran tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca pada tingkat lanjut. Untuk itu kemampuan membaca, menulis dan berhitung pada tingkat tersebut membutuhkan perhatian khusus, sebab pembelajaran kelas awal merupakan penentu pada tahap membaca berikutnya – jika masalah literasi di kelas awal belum selesai maka siswa akan mengalami kesulitan untuk dapat memiliki kemampuan membaca yang baik pada tingkat selanjutnya.
Kondisi ini ibarat tengkes (stunting) dalam dunia kesehatan. Pada anak dengan kondisi tengkes, periode emas perkembangan otaknya terhambat karena kurangnya asupan nutrisi. Akibatnya, kapasitas intelektual anak tidak berkembang optimal. Begitu pula dengan lemahnya literasi membaca
di kelas awal, yang dapat berpengaruh terhadap proses belajar dan keberhasilan siswa dalam menuntaskan pendidikan. Inilah yang disebut “efek Matthew” (Stanovich, 1986), dimana siswa yang tidak bisa membaca dapat mengalami kehilangan motivasi, hanya mampu menyerap sedikit informasi, dan tidak mampu memahami informasi yang kompleks.
Akibatnya, siswa gagal untuk belajar sekaligus berpotensi mengulang kelas, bahkan tidak melanjutkan pada jenjang pendidikan berikutnya. Mari kita cermati data dari beberapa daerah di Indonesia untuk melihat bagaimana efek dari rendahnya kemampuan literasi membaca di kelas awal. Di Sumba, studi ACDP menunjukkan angka mengulang di kelas 2 relatif tinggi yaitu pada kisaran 12 – 21%. Pada data yang sama disebutkan bahwa sekitar 30% murid kelas 2 mengalami kesulitan membaca (ACDP, 2017). Di
Nusa Tenggara Barat (NTB) angka putus sekolah di enam kabupaten di NTB (Bima, Dompu, Lombok Tengah, Lombok Utara, Sumbawa dan Sumbawa Barat) rata-rata 14%. Angka tersebut disumbang paling banyak oleh Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu dengan masing-masing 32% dan 22% (Semeru, 2016). Data di atas menunjukkan bahwa jika tidak ditangani, rendahnya kemapuan literasi dasar di kelas awal ini tidak hanya membuat peserta didik kesulitan memahami materi belajar pada tingkatan
selanjutnya, tetapi juga membuat mereka terlempar dari layanan pendidikan yang tersedia. Artinya, upaya bertahun-tahun untuk meningkatkan akses terhadap layanan pendidikan akan menjadi sia-sia.
Dengan mencermati data di atas, kami kira upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia dapat dimulai dengan mengatasi permasalahan literasi di kelas awal. Untuk itulah, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan bekerjasama dengan Pemerintah Australia di bawah program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) telah melakukan kemitraan startegis dalam rangka mencari solusi yang tepat pada
permasalahan pendidikan di tanah air. Salah satu program pada kemitraan tersebut adalah peningkatan mutu pembelajaran siswa kelas awal melalui pendidikan literasi dasar melalui pelajaran membaca dan berhitung sederhana.
Sejauh ini program INOVASI dilakukan di beberapa provinsi, antara lain Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Utara, dan Jawa Timur. Program INOVASI secara khusus mengintervensi beberapa kabupaten di kawasan tersebut untuk mengidentifikasi dan
menguji praktik belajar mengajar yang sesuai dengan konteks lokal dan yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah tersebut. INOVASI mengembangkan sejumlah program tersebut yang
difokuskan kepada kelas awal di sekolah dasar. Total program yang sudah dijalankan dari 2016-2019 sebanyak 25 program. Program-program tersebut secara garis besar berfokus kepada guru, kepala sekolah, metode pembelajaran, sarana dan prasarana serta komunitas di lingkungan siswa.
Program rintisan INOVASI ini sebetulnya ditujukan untuk mendapatkan pemahaman dan cara-cara yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa terutama di bidang literasi dan numerasi dasar di kelas awal. Dari sejumlah program saat ini telah menghasilkan beberapa praktik baik yang menjadi keluaran (output) dari INOVASI.
Salah satu kekhasan dari program yang dijalankan oleh INOVASI adalah penerapan pendekatan Problem Driven Iterative Adaptation (PDIA). Inti dari pendekatan ini adalah upaya eksplorasi dan identifikasi terhadap tantangan di daerah yang sesuai dengan kondisi kekhasan masing-masing daerah.
Dalam menerapkan pendekatan ini, INOVASI mencoba memetakan permasalahan, agar kemudian dapat dibuat rancangan solusi yang relevan dengan konteksnya, baik konteks permasalahan maupun kapasitas yang dimiliki oleh daerah. Pendekatan ini merupakan kritik dari sebagian besar program-program sebelumnya yang cenderung menganut prinsip ‘one size fits for all’ tanpa memperhatikan karakteristik lokal. Cara pandang program yang seragam ini dipandang tidak selalu relevan untuk Indonesia yang
beragam yang memiliki karakteristik yang khas. Buku yang Anda pegang saat ini merupakan refleksi dari program literasi dasar kelas awal Sekolah Dasar yang dijalankan oleh INOVASI di atas. Tidak semua daerah sasaran program kami kaji. Kajian ini hanya mencakup beberapa daerah antara lain Kab. Bulungan (Kalimantan Utara), Kab. Lombok Utara (Nusa Tenggara Barat), serta Kab. Sumba Barat dan Sumba
Timur (Nusa Tenggara Timur). Daerah-daerah ini adalah daerah “pinggiran” dengan kondisi akses, sarana dan prasarana, serta guru yang relatif terbatas dibanding daerah-daerah lain di Indonesia. Namun seperti akan kami uraikan nanti, akan banyak pembelajaran yang dapat kita tarik dari pelaksanaan program-program di daerah pinggiran tersebut.
Sumber : kemdikbud
[…] Baca juga : Peningkatan Literasi Dasar Siswa di Kelas Awal […]
[…] Baca Juga : Peningkatan Literasi Dasar Siswa di Kelas Awal […]