Model Pembelajaran Literasi

Model Pembelajaran Literasi – Literasi adalah kecakapan yang dibutuhkan oleh pendidikan modern. Dalam menghadapi tantangan di era digital, siswa dituntut untuk mampu memilah, mengolah informasi pada teks, menyimpulkannya, mengevaluasinya secara kritis, lalu menggunakannya untuk mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia yang sarat dengan informasi ini, kecakapan literasi informasi menjadi keterampilan hidup warga global. Kecakapan abad XXI membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah, kecakapan berkomunikasi, kecakapan kreativitas dan inovasi, dan kemampuan untuk berkolaborasi. Semua keterampilan ini dapat ditumbuhkan sejak dini melalui beragam strategi literasi menggunakan teks bacaan. Sejak dini, anak dapat dibiasakan untuk berpikir, menganalisis teks, serta mempertanyakan materi dalam untuk mengevaluasinya dengan kritis. Sayangnya, strategi berpikir tingkat tinggi melalui teks bacaan belum banyak dilakukan di sekolah. Hal ini ditunjukkan oleh pemetaan terhadap kecakapan literasi siswa kelas X yang dilakukan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud (2018) yang hasilnya belum menggembirakan. Temuan pemetaan menunjukkan bahwa sebagian besar peserta (37,5 %) memiliki kecakapan membaca level tiga, yaitu mampu menyelesaikan soal-soal membaca dengan kompleksitas sedang, seperti menemukan informasi, menghubungkan bagian pada teks, dan menghubungkan dengan pengetahuan sehari-hari yang sudah dikenal. Masih sangat sedikit (3,5 %) siswa yang telah mampu membaca dengan kritis dan menemukan informasi terperinci pada teks (level 5). Kajian tersebut juga menyebutkan bahwa kecakapan literasi siswa dipengaruhi oleh kebiasaan membaca siswa, tingkat pendidikan orang tua, akses terhadap bacaan (baik cetak maupun digital), serta frekuensi guru melakukan kegiatan membaca disekolah. Hal ini menegaskan bahwa kebiasaan membaca untuk kesenangan (reading for pleasure) membuat anak dan remaja memiliki kecakapan membaca dan prestasi akademik jika dibandingkan dengan mereka yang sedikit membaca di waktu luang (Clark dan Teravainen, 2017). Kebiasaan membaca untuk kesenangan di rumah dan di sekolah membentuk kebiasaan membaca pada anak. Oleh karena itu, pembiasaan membaca untuk kesenangan perlu diperkenalkan kepada anak sedini mungkin.

Baca Juga : Indeks Aktivitas Literasi Membaca

Menumbuhkan minat anak pada jenjang prabaca dan pembaca dini kepada teks (materi cetak) merupakan salah satu strategi literasi. Pengenalan literasi kepada anak pada jenjang ini tentu tidak dimaknai sempit sebagai kegiatan membaca dalam pengertian mengeja huruf (decoding). Pengertian literasi yang mencakup pengenalan
huruf dan suku kata, kefasihan melafalkan bacaan, mengeja, dan menulis semata kini mulai ditinggalkan. Literasi tidak bermula dari mengenalkan alfabet kepada anak di jenjang prabaca dan pembaca dini, tetapi bahkan lebih dini dari itu. Panduan ini memperkenalkan model-model pembelajaran yang dapat difasilitasi oleh guru dan orang tua untuk anak pada jenjang prabaca dan pembaca dini dengan
merujuk kepada konsep literasi terkini. Semua ini bertujuan untuk menumbuhkan budaya berpikir dan menelaah teks pada anak, yang pada akhirnya meningkatkan kecakapan berpikir tingkat tinggi mereka. Strategi literasi ini perlu dilakukan baik di rumah maupun di sekolah guna membekali anak dengan keterampilan hidup di abad XXI.

Download

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *