Majalah Jendela Edisi 20 2017 hadir sebagai salah satu bentuk inovasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam layanan publikasi serta keterbukaan informasi melalui media daring (dalam jaringan/online) kepada masyarakat. Laman ini hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan informasi mengenai kebijakan Kemendikbud yang dapat diakses dari mana saja dan kapan saja, tanpa terbatas pada format cetak.
Baca Juga : Majalah Jendela Edisi 63
Majalah Jendela Edisi 20 2017 sendiri terbit pertama kali pada 2016 yang menyajikan informasi secara mendalam tentang kebijakan dan program Kemendikbud. Majalah ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan data resmi Kemendikbud yang dapat dikutip maupun diambil manfaatnya oleh berbagai pemangku kepentingan Pendidikan dan kebudayaan lainnya.
Laman majalah Jendela Pendidikan dan Kebudayaan dapat diakses melalui komputer, laptop, maupun ponsel pintar dan dapat diunduh untuk dapat dibaca secara luring (luar jaringan/offline).
PEMBANGUNAN yang merata di seluruh wilayah di Indonesia merupakan dambaan masyarakat
Indonesia. Itulah mengapa Presiden Joko Widodo merumuskan nawacita, yang salah satunya berbunyi
membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Lewat nawacita ke-3 itu, Presiden ingin masyarakat yang berada di wilayah pinggir Indonesia tetap merasakan kehadiran negara melalui kebijakan intervensi yang diberikan. Sebagai wujud nyata pelaksanaan nawacita itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menjalankan sejumlah kebijakan yang menyasar masyarakat yang berada di wilayah pinggir tersebut. Kebijakan itu misalnya merekrut Guru Garis Depan (GGD), membangun Sekolah Garis Depan (SGD), memberi bantuan paket peralatan pendidikan, mengirim seniman masuk sekolah, dan merevitalisasi desa adat.
Contoh kebijakan di atas hanya beberapa di antara banyak program dan kebijakan yang Kemendikbud
lakukan. Kebijakan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan dan kebudayaan di wilayah
terluar, terdepan, dan terpencil (3T) itulah yang kami ulas dalam majalah JENDELA edisi kali ini. Kami
sajikan ulasan tersebut sebanyak 20 halaman dalam rubrik Fokus.
Tidak hanya berupa artikel, pembahasan mengenai program dan kebijakan itu kami sajikan pula dalam
bentuk infografis dan ilustrasi yang menarik. Harapannya agar pembaca dapat dengan mudah memahami isi kebijakan yang disampaikan. Selain itu, tampilan yang menarik juga diharapkan mampu embangkitkan minat untuk membaca lebih jauh tentang kebijakan ini.
Sebagai pelengkap penghujung tahun 2017, kami hadirkan pula fokus tambahan mengenai capaian
kinerja Kemendikbud sepanjang pelaksanaan program dan kebijakan di tahun 2017. Uraian capaian kinerja ini kami sajikan dalam 3 halaman yang dilengkapi dengan infografis menarik yang diharapkan memudahkan pemahaman pembaca sekalian.
Rubrik tetap seperti Resensi Buku dan Kebudayaan tetap kami hadirkan dalam edisi kali ini. Buku yang diresensi bertemakan tentang literasi sekolah yang dapat menjadi bahan bacaan bermutu bagi warga sekolah. Sementara rubrik Kebudayaan kembali menghadirkan tema Europalia yang hingga Januari 2018 masih terus berlangsung. Rubrik ini menampilkan hasil wawancara majalah JENDELA dengan Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Faridl.
Rubrik lainnya yang tidak boleh dilewatkan adalah Bangga Berbahasa Indonesia yang tersaji dalam
dua halaman. Pada halaman pertama, kami hadirkan artikel ringan tentang kalimat bermakna ganda.
Artikel ini kami hadirkan untuk mengingatkan kembali penggunaan kalimat yang efektif sehingga
tidak menimbulkan tafsiran ganda. Sementara pada halaman kedua, tersaji daftar kata-kata serapan
yang berasal dari bahasa lain yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Kami berharap artikel-artikel
tersebut bermanfaat bagi para pembaca.