Literasi Finansial – Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat memiliki visi gemilang dan semangat tinggi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Namun, pada kenyataannya, generasi muda yang diharapkan menjadi “generasi emas” di tahun 2045 justru terjebak dalam situasi yang mengkhawatirkan. Kasus pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) telah menjebak mereka dalam utang dan membuat mereka mengalami kecemasan akibat masalah finansial. Akhirnya, generasi muda yang seharusnya produktif dan siap berkontribusi dalam pembangunan justru terpuruk karena masalah finansial mereka.
Contoh nyata dari situasi ini terlihat dari berbagai kasus gagal bayar pinjol yang terus meningkat di Indonesia. Dikutip dari Report on Indonesia Financial Sector Development Kuartal IV/2023, sampai
dengan Desember 2023, terdapat 18,07 juta orang yang terlibat dalam utang pinjol dengan akumulasi
nilai pinjaman mencapai 59,64 triliun rupiah. Salah satu kasus yang juga mencuat adalah penipuan
terhadap ratusan mahasiswa yang dijebak dengan modus bisnis online.
Mereka dijanjikan keuntungan sebesar 10 persen, tetapi malah berakhir dengan terjerat utang
(Kompas, 2022). Kasus-kasus ini menambah panjang daftar masalah keuangan yang menjerat generasi muda. Selain itu, terdapat pula kredit macet yang didominasi oleh kelompok usia 19-34 tahun senilai
730,03 miliar rupiah pada Desember 2023 (OJK, 2024).
Siklus Jebakan Berantai
Berdasarkan fenomena yang telah dibahas di atas, semakin banyak berita seputar orang yang terjerat pinjaman online, penipuan, ataupun judi online. Semakin banyak pula anggota masyarakat yang terjerat penipuan berkedok menghasilkan uang secara instan. Hal-hal ini dapat terjadi akibat rendahnya literasi finansial masyarakat Indonesia
- Rendahnya Literasi Finansial
- Pengambilan Keputusan Keuangan yang Buruk
- Tingkat Utang yang Tinggi
- Krisis Keuangan Pribadi
- Perputaran Uang yang Melambat dan Mengecil
- Dampak Makroekonomi
- Penurunan Pendapatan dan Tingkat Kesejahteraan
Baca Juga : Indeks Literasi Membaca di Indonesia
Apakah Indonesia Emas 2045 Dapat Tercapai?
Indonesia Emas 2045 merupakan visi besar Indonesia untuk menciptakan bangsa yang unggul, maju, adil, dan makmur pada peringatan 100 tahun kemerdekaan Indonesia. Visi ini mencakup empat pilar utama yang berakar pada filosofi untuk membangun masyarakat yang berdaya saing global serta mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) untuk kemajuan bersama. Salah satu fokus utama dari pilar pembangunan manusia dan penguasaan IPTEK adalah mempersiapkan generasi masa depan untuk beradaptasi dengan arus perubahan yang semakin cepat melalui pendidikan yang berkualitas
Sayangnya, saat ini Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan yang mengancam pencapaian
visi tersebut. Dalam pilar pembangunan manusia dan penguasaan IPTEK, keterampilan literasi finansial
generasi muda menjadi salah satu isu prioritas karena turut mendorong keberhasilan pilar pembangunan
lainnya, mulai dari pilar pembangunan ekonomi yang berkelanjutan hingga pilar pemerataan pembangunan.
Berdasarkan siklus jebakan berantai yang telah dibahas sebelumnya, keterampilan literasi finansial
yang buruk tidak hanya meningkatkan risiko keuangan rumah tangga bagi generasi muda Indonesia,
tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi nasional. Oleh karena itu, berinvestasi pada keterampilan
literasi finansial generasi muda dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk mendorong pembangunan manusia. Literasi Finansial
Download ebook Literasi Finansial