Pengantar
Asesmen digunakan untuk melakukan pemetaan kebutuhan peserta didik. Hasil asesmen selanjutnya dianalisis dan diidentifikasi kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi peserta didik yang secara aktual dan objektif dirasakan dan dihadapi oleh peserta didik. Kegiatan ini merupakan langkah awal dan sebagai dasar dalam penyusunan program bimbingan dan konseling disekolah. Asesmen merupakan langkah awal dalam mencapai tujuan program bimbingan dan konseling. Asesmen bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan,minat, dan potensi peserta didik. Hasil asesmen ini kemudian menjadi dasar dalam menyusun perencanaan pembelajaran yang tepat sasaran. Melalui materi ini, kita akan mempelajari lebih dalam tentang bagaimana cara melakukan asesmen yang komprehensif dan menyusun perencanaan pembelajaran terintegrasi Bimbingan dan Konseling yang efektif untuk mendukung tumbuh kembang peserta didik.
Asesmen kebutuhan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menemukan kondisi nyata peserta didik yang akan dijadikan dasar dalam merencanakan program bimbingan dan konseling. Hasil asesmen kebutuhan peserta didik dijabarkan dalam bentuk narasi sebagai dasar empirik bagi konselor atau guru bimbingan dan konseling dalam merencanakan pembelajaran terintegrasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah Dasar.
Alternatif kegiatan asesmen BK SD yang dapat dilakukan oleh guru kelas meliputi; (1) Asesmen awal tugas perkembangan, (2) Pemanfaatan hasil pengamatan terhadap perilaku peserta didik, (3) Penggunaan wawancara, (4) Penggunaan anekdot record (kejadian-kejadian istimewa), (5) Pemanfaatan laporan pihak lain (guru, orangtua, peserta didik), (6) Pemanfaatan hasil evaluasi pembelajaran, (7) Asesmen Gaya Belajar untuk peserta didik kelas atas (IV-VI).
Asesmen Bimbingan dan Konseling
Asesmen erat kaitannya dengan pengukuran, evaluasi, maupun tes. Sebelum kita lebih jauh membahas tentang asesmen, marilah kita bedakan pengertian masing-masing istilah “pengukuran” “evaluasi”, Cadha (2009: 4) didefinisikan sebagai proses pemberian /penempatan angka untuk suatu objek atau peristiwa tertentu. Secara tradisional, pengukuran berhubungan dengan unit kuantitatif, seperti yang terkait dengan panjang (misalnya, meter, inci), waktu (misalnya, detik, menit), massa (misalnya, kilogram, pon), dan suhu (misalnya, Kelvin, Fahrenheit). Pengukuran dalam ilmu sosial berkaitan dengan penyediaan data yang memenuhi beberapa kriteria, dan dengan demikian tes diberikan untuk menilai sejauh mana kriteria terpenuhi.
Menurut Fink (1995:4), Evaluasi merupakan suatu penyelidikan/investigasi karakteristik dan manfaat suatu program. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi tentang efektivitas program sehingga dapat mengoptimalkan hasil, efisiensi, dan kualitas. Hal ini mengandung arti bahwa evaluasi dilakukan untuk melihat keterlaksanaan dan ketercapaian kegiatan/layanan yang telah dilaksanakan dalam upaya mengambil keputusan. Sebagai contoh Anda ingin mengetahui ketercapaian program BK yang sudah Anda laksanakan, maka Anda dapat melakukan kegiatan evaluasi. Dengan demikian kegiatan dalam evaluasi meliputi pengukuran dan asesmen.
Hays (2013: 5) merumuskan tes sebagai proses sistematis dan sering distandarisasi untuk pengambilan sampel dan menggambarkan suatu minat perilaku individu atau kelompok. Sejalan Hays, Furqon & Sunarya (2011: 203) merumuskan tes sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab, atau pernyataan-pernyataan yang harus dipilih/ditanggapi, atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh orang yang di tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek perilaku atau memperoleh informasi tentang atribut dari orang yang di tes.
Menurut Hays (2013: 4) istilah umum metode evaluasi yang digunakan guru BK untuk lebih memahami karakteristik orang, tempat, dan hal-hal (objek). Pendapat Hays juga menyatakan bahwa mengandung makna asesmen merupakan metode yang sistematis untuk memperoleh informasi dari tes atau sumber lain seperti tes yang terstandar, skala penilaian, observasi, wawancara, teknik klasifikasi dan catatan catatan tentang konseli sehingga membantu guru BK dalam memahami konseli yang dilayani.
Tim GTK Dikdas (2021) menyampaikan bahwa asesmen bila dikaitkan dengan bimbingan dan konseling adalah suatu metode sistematis yang dilakukan oleh guru BK untuk memahami karakteristik lingkungan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan konseli melalui berbagai teknik seperti tes dan non tes (observasi, skala penilaian, wawancara, catatan dan teknik non tes lain sehingga guru BK memperoleh informasi secara mendalam konseli yang dilayani.
Asesmen kebutuhan merupakan kegiatan yang bertujuan untuk menemukan kondisi nyata peserta didik yang akan dijadikan dasar dalam merencanakan program bimbingan dan konseling. Hasil asesmen kebutuhan peserta didik dijabarkan dalam bentuk narasi sebagai dasar empirik bagi konselor atau guru bimbingan dan konseling dalam merencanakan program bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar.
Berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa asesmen merupakan proses sistematis yang dilakukan guru dalam upaya memahami karakteristik peserta didik melalui berbagai teknik tes dan non tes (observasi, skala penilaian, wawancara, catatan dan teknik non tes lain) sebagai pondasi guru untuk melakukan perencanaan pembelajaran, melakukan evaluasi, melakukan komunikasi dengan orang tua dan rencana tindak lanjut.
Alternatif kegiatan asesmen BK SD yang dapat dilakukan oleh guru kelas meliputi; (1) Asesmen awal tugas perkembangan, (2) Pemanfaatan hasil pengamatan terhadap perilaku peserta didik, (3) Penggunaan
wawancara, (4) Penggunaan anekdot record (kejadian-kejadian istimewa), (5) Pemanfaatan laporan pihak lain (guru, orangtua, peserta didik), (6) Pemanfaatan hasil evaluasi pembelajaran, (7) Asesmen Gaya Belajar untuk peserta didik kelas atas (IV-VI).
Menurut Aiken (1997: 11), tujuan utama asesmen baik tes maupun non tes adalah untuk menilai tingkah laku, kecakapan mental, dan karakteristik kepribadian seseorang dalam rangka membantu peserta didik dalam membuat keputusan, peramalan, dan keputusan tentang seseorang.
Selain itu tujuan asesmen diantaranya adalah mengidentifikasi masalah atau kebutuhan peserta didik, Menjadi dasar untuk menyusun rencana pemberian bantuan atau pelayanan terhadap peserta didik, mengetahui kelebihan,bakat, atau potensi yang dimiliki peserta didik, dan sebagai dasar penyusunan diagnosis psikologis. Asesmen memberikan manfaat dalam layanan konseling karena dapat memberikan informasi bagi guru BK maupun peserta didik sehingga guru BK dapat memahami, memberikan tanggapan, membuat perencanaan serta melakukan.
Pemetaan kebutuhan peserta didik dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan kebutuhan setiap individu. Prosesnya dilakukan dengan mengamati, mengumpulkan data, dan mempelajari masing-masing peserta didik secara mendalam. Dalam memetakan kebutuhan tersebut, guru juga dapat m mempertimbangkan faktor kemampuan akademik, minat dan bakat, hingga kebutuhan khusus. Pemetaan kebutuhan dapat dilakukan melalui pengamatan atau observasi, atau menggunakan berbagai instrumen yang sesuai dengan kebutuhan, termasuk survei atau angket. Setelah kebutuhan peserta didik terpetakan dengan baik, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap kebutuhan tersebut.
Analisis kebutuhan peserta didik dilakukan untuk menemukan solusi dalam memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pemetaan ini dapat mencakup berbagai kebutuhan peserta didik, seperti aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir. Pada tahap ini, guru dapat mempertimbangkan kurikulum, metode pembelajaran, hingga strategi pengajaran. Hasil analisis pemetaan kebutuhan peserta didik juga
memetakan peserta didik yang memiliki situasi dan kondisi khusus. Idealnya, situasi peserta didik dapat ditangani dengan dampingan wali kelas dan guru mapel. Namun, dilihat dari jenis situasi, peserta didik perlu diamati khusus dan ditangani secara lebih spesifik. Situasi inilah yang perlu dipetakan oleh peran BK.
Sumber : kemdikbud.go.id
[…] Baca juga : Asesmen Bimbingan dan Konseling Dalam Perencanaan Pembelajaran Sekolah Dasar […]