Majalah Vokasi Edisi April 2022 – Transformasi industri menuju interaksi tanpa batas antara manusia dan teknologi menuntut organisasi agar konsisten menelurkan inovasi yang jitu guna menghadapi volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas (VUCA).
Di saat bersamaan, organisasi bersiap menyambut datangnya Generasi Z (Gen Z), laskar termuda dalam sejarah angkatan kerja, generasi yang dinilai erat ketertarikannya akan teknologi dan makna inovasi.
Dalam Vokasi Edisi April, redaksi mengangkat generasi Z sebagai laporan utamanya. Tentu saja, redaksi juga menampilkan hasil liputan, seperti kisah sukses lulusa SMK, tefa Sari Buah Lemon yang menghasilkan omzet miliarin rupiah, beasiswa dan lainnya. Deloitte mengungkapkan dalam kurun waktu empat tahun mendatang, Gen Z akan memenuhi lebih dari 20% tenaga kerja dalam organisasi. Meski begitu, agaknya diskusi mengenai hadirnya Gen Z di dunia kerja tidak mendapat respon yang tajam seiring dengan perhatian organisasi yang terhenti pada Generasi Y atau yang dikenal dengan generasi milenial.
Gen Z merupakan generasi yang erat dengan teknologi (digital native), sebagaimana mereka lahir di era ponsel pintar, tumbuh bersama dengan kecanggihan teknologi komputer, dan memiliki keterbukaan akan akses internet yang lebih mudah dibandingkan dengan generasi terdahulu.
Menurut penelitian, 33% Gen Z menghabiskan lebih dari 6 jam sehari dalam menggunakan ponsel dan jauh lebih sering menggunakan media sosial dibandingkan dengan generasi pendahulunya.
Bahkan, survei tersebut memaparkan bahwa Gen Z di Indonesia, khususnya, menduduki peringkat tertinggi dalam penggunaan ponsel, yakni 8,5 jam setiap harinya (Kim, et al, 2020). Menariknya, meskipun Gen Z dikenal sebagai generasi digital, 44% Gen Z lebih menyukai bekerja dengan tim dan rekan kerja secara langsung.
Meski demikian, Gen Z memiliki semangat kerja yang kuat dalam meniti kariernya dan akan berupaya untuk memastikan bahwa mereka berkontribusi dengan baik untuk organisasi (Bucovetchi, et al, 2019).
Sebagai generasi yang merupakan penggemar teknologi, Gen Z pun dianggap memliki bakat kreativitas dan inovasi yang kuat. Hal ini sejalan dengan ketertarikan Gen Z pada organisasi yang memiliki kultur kerja inovatif dan berbasis kewirausahaan.
Perkembangan teknologi membuat sejumlah lapangan kerja baru muncul untuk Generasi Z yang yang memiliki kefasihan dengan dunia teknologi. Tak heran bila teknologi yang telah dikenal sejak kecil ini menjadi faktor penting saat Gen Z harus bekerja. Diperkirakan industri teknologi dan digital menjadi sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja Gen Z. Sesuai dengan perkembangan teknologi digital, Generasi Z diperkirakan akan lebih sukses karirnya dengan bidang-bidang kompetensi yang terkait dengan digital Menurut studi yang dilakukan oleh McKinsey (2018), perilaku Gen Z dapat dikelompokkan ke dalam empat komponen besar yang berlandas pada satu fondasi yang kuat bahwa Gen Z adalah generasi yang mencari akan suatu kebenaran.