Perjalanan reformasi pendidikan vokasi di Indonesia merupakan proses yang berkesinambungan. Pendidikan kejuruan menjadi perhatian utama jika dikaitkan dengan ketersediaan tenaga kerja. Berbagai kebijakan dan kajian dilakukan dalam meningkatkan potensi pendidikan kejuruan untuk perkembangan sosial ekonomi dan wilayah, serta dapat memberikan dampak terhadap kehidupan pribadi dan professional masyarakatdi seluruh Indonesia. Pendidikan formal di Indonesia, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), mendapat sorotan terkait tingginya pengangguran pada lulusan SMK.
Pemangku kepentingan pendidikan kejuruan di Indonesia mempertanyakan isi kurikulum, menilai kurikulum kurang sesuai. Menyadari bahwa siswa perlu dipersiapkan untuk masa depan, yang sebagian besar jenis pekerjaan yang akan muncul belum diketahui, rancangan program pendidikan dan pelatihan vokasi sekarang tidak hanya berfokus pada tugas dan aktivitas yang terkait dengan pekerjaan, tetapi
juga pada kompetensi umum seperti belajar untuk belajar, pemecahan masalah, berpikir kritis, inovasi, dan transformasi. Peserta didik harus siap, antara lain, untuk menghadapi perubahan, untuk menumbuhkan pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas mereka, dan untuk berkontribusi dalam mengembangkan produk dan proses baru.
Pendidikan vokasi arus mempertimbangkan perubahan dunia kerja yang sangat cepat dan dinamis, serta menegaskan bahwa pendidikan vokasi tidak boleh dilihat secara sempit hanya untuk melayani ekonomi formal. Beberapa bidang keahlian di SMK memerlukan pendalaman dan peningkatan kompetensi untuk
dapat menjawab kebutuhan dunia kerja dan industri sekarang dan masa depan. Teknologi baru telah membuat jenis pekerjaan tertentu mengalami peningkatan tuntutan kompetensi yang lebih tinggi, yang akan mengarah pada ‘inflasi pekerjaan’. Beberapa bidang dan jenis pekerjaan mengalami inflasi, sehinga harus diisi oleh lulusan sekolah yang levelnya lebih tinggi. Buku ini dihadirkan untuk mengantar para pengembang pendidikan vokasi, khususnya SMK, untuk meningkatkan derajat kompetensi lulusannya. Buku ini mempertimbangkan sifat pembelajaran kejuruan yang berkembang, dengan penekanan khusus pada bidang-bidang keahlian yang telah dipetakan, yang memerlukan perpanjangan masa studi dari 3 tahun menjadi 4 sampai 5 tahun.
Buku ini mengelaborasi dan mendiskusikan penelitian pendidikan vokasi khususnya pengembangan model operasional kerangka dasar norma, standar, prosedur, kriteria (NSPK) SMK 4/5 Tahun. Buku ini
juga memberikan analisis tentang variable-variabel yang membentuk kerangka dasar NSPK untuk mendukung penyelenggaraan SMK 4/5 Tahun di beberapa program keahlian. Kebutuhan dunia kerja akan
kompetensi yang lebih spesifik dan profil lulusan SMK yang jelas, maka saatnya merubah tujuan dan konsepsi pendidikan kejuruan. Melalui serangkaian kajian, survei, dan diskusi ilmiah dari akademisi, pelaku dunia usaha dan industri, maka buku ini mengurai potret pendidikan vokasi di Indonesia, konsepsi pendidikan vokasi yang melibatkan politeknik serta industri dalam pembentukan kerangka dasar NSPK
Advancing SMK 3 Tahun.
Tidak dipungkiri pro dan kontra masih mewarnai kebijakan SMK 4/5 tahun. Namun, ada harapan dan cita-cita yang mulia dalam pelaksanaan SMK 4/5 tahun untuk meningkatkan kompetensi lulusan SMK menjadi human specific capital untuk menjawab tantangan dunia kerja dan industri. Pendidikan kejuruan berperan
dalam pengembangan kapasitas yang penting untuk menopang kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat. Diperlukan peran emansipatoris pribadi dan sosial yang dapat meningkatkan pendidikan
kejuruan, khususnya SMK, untuk memiliki potensi to-play. Advancing SMK 3 Tahun menjadi SMK 4/5 Tahun dapat membantu mengatasi keterbatasan syarat minimal pendidikan di lowongan kerja, di mana
sebanyak 52% menginginkan lulusan diploma. Melalui pelaksanaan SMK 4/5 tahun diharapkan dapat membantu dalam meningkatkan kedudukan pekerjaan yang layak sesuai kompetensi di dunia kerja
dan industri serta dapat membantu penghargaan materi dan mobilitas karir lulusan. Peningkatan kompetensi lulusan melalui advancing SMK 3 Tahun menjadi SMK 4/5 tahun ini dapat membantu pencapaian tujuan potensial, proses, dan praktik pendidikan kejuruan agar lebih diterima di seluruh lembaga pemerintah, lembaga global, lembaga pendanaan dan dalam komunitas pendidikan dan akademik, dan di tempat-tempat yang mempekerjakan pekerja lulusan SMK. Saatnya Indonesia memandang SMK sebagai bentuk pendidikan paling cocokbuntuk memunculkan individu-individu yang memiliki kompetensi berkualitas di bidangnya.