Majalah Jendela Edisi 56 KEBERAGAMAN BUDAYA Indonesia menjadi kekayaan yang tak ternilai harganya, terutama bagi generasi muda penerus bangsa. Di tengah gempuran budaya asing, sebut saja misalnya K-Pop, yang saat ini hampir memenuhi ruang budaya di seluruh lini kehidupan, menyentil nurani pemerintah untuk kembali mengenalkan budaya Indonesia melalui kanal-kanal yang mudah dijangkau masyarakat. Melalui Merdeka Belajar 13, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) meluncurkan kanal budaya Indonesiana TV, yang dirancang khusus untuk menyajikan acara kebudayaan. Kanal yang dapat disaksikan melalui saluran televisi digital dan laman indonesiana.tv ini, digadang akan menjadi wadah bersatunya sajian budaya dari seluruh penjuru negeri. Apa saja yang menjadi keunggulan program ini dan jenis sajian dapat dinikmati oleh pemirsa indonesiana. tv akan dibahas lengkap pada rubrik Fokus edisi kali ini. Tidak lupa Jendela tampilkan pendapat dari seniman yang mengenal dengan baik kebudayaan tentang indonesiana.tv. Selanjutnya pada rubrik Resensi Buku, redaksi suguhkan buku berjudul “Belajar Sejarah Budaya melalui Makam Kuno di Maros bersama Toala”. Buku setebal 21 halaman ini bisa menjadi bacaan menarik bagi siswa yang ingin mengenal lebih dalam sejarah bangsa terutama yang berada di Maros, Sulawesi Selatan. Simak penjelasan lebih lengkap pada edisi ini di halaman 30.
Baca juga : Majalah Vokasi September 2022
Sementara itu, pada rubrik Seputar Film Indonesia kali ini, Jendela menghadirkan ulasan film yang berjudul “Terima Kasih Emak, Terima Kasih Abah”. Drama yang dibintangi oleh Novia Kolopaking (Emak)
dan Adi Kurdi (Abah) ini, menceritakan tentang kehidupan keluarga sederhana yang lekat dengan keseharian masyarakat Indonesia pada umumnya. Bagaimana cerita yang dikisahkan dalam drama ini?
Baca artikelnya di halaman 22 dan 23. Pada rubrik Kebudayaan, pembaca dapat menikmati artikel tentang dua tari daerah menjadi ikon prangko di tahun 2021 ini. Pemilihan dua tarian ini merupakansalah satu upaya pemerintah untuk melindungi dan melestarikan budaya Indonesia. Ingin tahu tari apa saja yang menjadi ikon tersebut dan bagaimana prosesnya, simak ulasannya di halaman 35 s.d. 37. Di rubrik Kajian, ada suguhan artikel tentang kebijakan Pendidikan bagi anak-anak pengidap kanker dan tumor. Kajian ini menghasilkan rekomendasi bagi pemerintah dalam afirmasi Pendidikan bagi anak-anak dengan kondisi khusus tersebut. Ulasannya dapat disimak di halaman 38 s.d. 40. Terakhir, rubrik yang tidak boleh dilewatkan ada Bangga Berbahasa Indonesia, yang kali ini menyajikan artikel ringan tentang mengenal
etimologi. Selain itu ada juga ulasan untuk mengenal kata baku dan tidak baku. Kedua ulasan tersebut
dapat dibaca di halaman 41 dan 42. Redaksi ucapkan terima kasih atas dukungan para pembaca setia Jendela sehingga majalah ini dapat terbit untuk menjadi referensi serta tambahan informasi mengenai kebijakan Kemendikbudristek. Jangan lupa untuk ikuti akun media sosial Jendela di Facebook Majalah Jendela Dikbud. Tinggalkan jejak dengan berkomentar pada salah satu unggahan. Akhir kata, selamat membaca dan ambil manfaat dari artikel-artikel yang tersaji.