Majalah Jendela Edisi 8 2016 hadir sebagai salah satu bentuk inovasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam layanan publikasi serta keterbukaan informasi melalui media daring (dalam jaringan/online) kepada masyarakat. Laman ini hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan informasi mengenai kebijakan Kemendikbud yang dapat diakses dari mana saja dan kapan saja, tanpa terbatas pada format cetak.
Majalah Jendela Edisi 8 2016 sendiri terbit pertama kali pada 2016 yang menyajikan informasi secara mendalam tentang kebijakan dan program Kemendikbud. Majalah ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan data resmi Kemendikbud yang dapat dikutip maupun diambil manfaatnya oleh berbagai pemangku kepentingan Pendidikan dan kebudayaan lainnya.
Laman majalah Jendela Pendidikan dan Kebudayaan dapat diakses melalui komputer, laptop, maupun ponsel pintar dan dapat diunduh untuk dapat dibaca secara luring (luar jaringan/offline).
Penerapan pendidikan karakter di sekolah sebenarnya sudah diterapkan sejak lama. Sekolah-sekolah ini menerapkan nilai-nilai karakter tertentu dalam pembelajaran sehari-hari kepada para siswanya. Kesadaran
membiasakan hal-hal baik di sekolah ini kemudian semakin kuat ketika pada tahun 2010 pemerintah Indonesia mencanangkan sekaligus melaksanakan kebijakan Gerakan Nasional Pendidikan Karakter berlandaskan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pendidikan Karakter Bangsa.
Sayangnya, kebijakan tersebut belum secara merata dilakukan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Padahal praktik-praktik penerapan pendidikan karakter di sekolah-sekolah yang telah menjalankan dinilai sudah cukup baik dan berada pada jalur yang tepat, meski proporsi pendidikan karakter dengan pendidikan intelektual belum berimbang akibat berbagai faktor.
Langkah strategis kemudian diambil Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk melanjutkan, memperluas, memperkuat, mengoptimalkan, dan memperdalam pendidikan karakter di sekolah. Langkah itu diberi nama: Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Ada yang berbeda dengan
kebijakan pendidikan karakter kali ini. Ya, publik dilibatkan untuk ikut menyukseskan pelaksanaan penerapan pendidikan karakter di sekolah. Bukan saja warga sekolah yang menjalankan PPK, tetapi pemangku kepentingan pendidikan, seperti orangtua, komite sekolah, dunia usaha-dunia industri, akademisi, komunitas, hingga media massa dan perguruan tinggi.
Kita semua berharap ikhtiar baik itu dapat berjalan lancar dan tentunya membuahkan hasil yang diharapkan, yaitu membentuk manusia Indonesia yang tidak hanya memiliki intelektualitas yang tinggi tetapi juga ditopang dengan budi pekerti dan karakter luhur bangsa. Mereka menjadi sosok yang religius, nasionalis,Penerapan pendidikan karakter di sekolah sebenarnya sudah diterapkan sejak lama. Sekolah-sekolah ini menerapkan nilai-nilai karakter tertentu dalam pembelajaran sehari-hari kepada para siswanya. Kesadaran membiasakan hal-hal baik di sekolah ini kemudian semakin kuat ketika pada tahun 2010 pemerintah Indonesia mencanangkan sekaligus melaksanakan kebijakan Gerakan Nasional
Pendidikan Karakter berlandaskan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pendidikan Karakter Bangsa.
Sayangnya, kebijakan tersebut belum secara merata dilakukan di sekolah-sekolah seluruh Indonesia. Padahal praktik-praktik penerapan pendidikan karakter di sekolah-sekolah yang telah menjalankan dinilai sudah cukup baik dan berada pada jalur yang tepat, meski proporsi pendidikan karakter dengan pendidikan intelektual belum berimbang akibat berbagai faktor.
Baca juga : Majalah Vokasi April 2023
Langkah strategis kemudian diambil Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk melanjutkan, memperluas, memperkuat, mengoptimalkan, dan memperdalam pendidikan karakter di sekolah. Langkah itu diberi nama: Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Ada yang berbeda dengan
kebijakan pendidikan karakter kali ini. Ya, publik dilibatkan untuk ikut menyukseskan pelaksanaan penerapan pendidikan karakter di sekolah. Bukan saja warga sekolah yang menjalankan PPK, tetapi pemangku kepentingan pendidikan, seperti orangtua, komite sekolah, dunia usaha-dunia industri, akademisi, komunitas, hingga media massa dan perguruan tinggi.
Kita semua berharap ikhtiar baik itu dapat berjalan lancar dan tentunya membuahkan hasil yang diharapkan, yaitu membentuk manusia Indonesia yang tidak hanya memiliki intelektualitas yang tinggi tetapi juga ditopang dengan budi pekerti dan karakter luhur bangsa. Mereka menjadi sosok yang religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan berintegritas. Itulah lima nilai utama karakter bangsa yang
diinginkan melalui PPK. Topik itulah yang kami hadirkan dalam rubrik fokus di edisi VIII kali ini.
Infografis menarik yang sudah menjadi ciri khas majalah JENDELA juga kami sajikan di edisi ini.
Kami berharap, infografis yang dihadirkan bukan saja sebagai pelengkap, tetapi juga agar
pembaca dapat lebih mudah memahami isi pembahasan dalam majalah ini.
Tidak lupa kami lengkapi majalah edisi ini dengan sejumlah rubrik tetap lainnya, seperti pada rubrik resensi buku, kami sajikan buku berjudul “Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah”. Buku ini secara khusus membahas tentang kearifan lokal masyarakat Jawa yang diimplementasikan dalam dunia pendidikan. Buku ini dapat dipinjam di Perpustakaan Kemendikbud. Rubrik lain yang kami hadirkan adalah rubrik kebudayaan yang mengulas tentang makna tiga stanza (kumpulan bait) lagu kebangsaan
“Indonesia Raya” yang disajikan dengan tulisan ringan. Dengan memahami setiap kata dalam lirik lagu “Indonesia Raya”, diharapkan nasionalisme bangsa mengakar dalam diri masyarakat Indonesia.
Rubrik yang tidak kalah menarik tersaji dalam “Bangga Berbahasa Indonesia”. Rubrik ini berisi
daftar kata serapan dan kata dengan penulisan yang tepat, lengkap beserta arti kata tersebut.
Rubrik ini sengaja kami hadirkan agar kecintaan kita terhadap bahasa Indonesia semakin
meningkat. Semoga. Akhir kata kami berharap para pembaca dapat mengambil informasi yang tersaji dalam majalah JENDELA ini. Selamat membaca. Salam.
Download Emajalah Jendela Edisi 8 2016